Sabtu, 06 April 2013

MELESTARIKAN BUDAYA MENULIS KARYA SASTRA


ABSTRACT
Write a literary work can become a culture. purpose of this study was to determine (1) the causes of declining interest in high school students to write poetry, (2) efforts to increase the interest of high school students to write poetry. Data collected by interview and observation method to high school students in Malang and Tulungagung with descriptive and qualitative techniques. The results are (1) declining interest in high school students as a result of the of globalization, students write poetry for fun without making it a more productive hobby, not yet aware of the nature of literary works, students are more interested in the concrete than the abstract (2) efforts to increase student interest in literary writing can be done by the need for attention from the government, teachers no longer menganaktirikan literary skills, especially writing skills of a literary, more creative use of the potential of school students in the writing of literature.

Keywords: Conserve, culture, writing, literature, high school students.

Setiap bangsa pasti memiliki kebudayaan. Budaya merupakan suatu hasil karya, cipta, rasa, dan karsa manusia. Dengan budaya suatu kelompok masyarakat mampu menonjolkan kreativitasnya, serta mampu menjadikan budaya sebagai identitas diri bangsa secara turun temurun. Dengan budaya suatu kelompok masyarakat mampu mengetahui serta mempelajari budaya mereka sendiri sekaligus membandingkan budayanya dengan budaya kelompok masyarakat yang lain. Wujud kebudayaan di Indonesia yang beraneka ragam membuat Indonesia kaya akan budaya, akan tetapi budaya yang tampak secara nyata hanya terfokus pada seni tari, pakaian, rumah adat, lagu, musik daerah, alat musik, gambar, dan patung.
Kebudayaan di Indonesia saat ini cenderung mulai luntur akibat pengaruh budaya luar, bukan hanya kebudayaan saja tetapi juga dalam bidang pendidikan dan teknologi. Budaya yang mencakup bidang tertentu tanpa ada suatu pembaharuan dalam kebudayaan akan terasa hambar. Mengapa tidak ada yang berpikir bahwa suatu karya sastra bisa menjadi budaya? Hal inilah yang akan menjadi inovasi terhadap kebudayaan siswa SMA saat ini.
Karya sastra merupakan suatu hasil kreativitas yang diciptakan oleh pengarang untuk mengekspresikan jiwa, emosi, dan perasaannya. Ketika seseorang merasa dalam keadaan labil terkadang ia akan mengungkapkannya lewat sebuah karya sastra, baik itu berupa puisi, cerpen, novel, dan sebagainya. Bentuk karya sastra ada dua macam, yakni karya sastra yang berbentuk prosa dan nonprosa. Baik dalam bentuk prosa maupun nonprosa, melalui keindahan kata dan pilihan kata yang imajinatif dan puitis membuat karya sastra menjadi suatu hasil karya yang memiliki value (nilai) tersendiri bagi pembacanya. Banyak karya-karya sastra yang telah memotivasi pembacanya, memberikan gambaran atau kritik kepada suatu keadaan yang tidak seimbang sekaligus mempengaruhi pembacanya tertarik untuk ikut berkarya. Akan tetapi, minat siswa khususnya siswa SMA pada sastra yang sekarang cenderung mengalami stagnasi atau kemacetan. Hal ini membuat karya sastra terkadang hanya dipandang sebelah mata. Padahal dengan karya sastra akan lebih kreatif dalam mengolah kata-kata, mengeksplorasi bahasa, dan menjadikan bahasa sebagai acuan utama masyarakat untuk maju. Bahasa yang notabene adalah bagian dari kebudayaan, karena bahasa juga digunakan untuk menyampaikan pesan kebudayaan pada bangsa lain.
Hakikat menulis itu sendiri adalah menulis itu kerja kreatif. Menulis itu menciptakan atau membangun sebuah dunia. Menulis dibagi dalam dua bagian, yaitu creative writing (menulis kreatif) dan academic writing (menulis akademis). Creative writing (menulis kreatif) melibatkan emosi dan hati nurani di dalamnya, di mana penulis sebagai 'penguasa' bagi suatu kehidupan yang diciptakannya, meliputi novel, cerpen, puisi, repertoire. Creative writing termasuk dalam fiksi atau fiction yang mengandung pengertian data atau fakta tidak penting, data bisa dijadikan titik pijak tetapi tidak mutlak, logikanya khas dunia fiksi dan argumentasi khas fiksi atau berdasarkan imajinasi. Sedangkan academic writing (menulis akademis) meliputi kolom, tajuk rencana atau editorial, opini atau pendapat, feature, petunjuk praktis atau tips, investigative reportingindepth reportingdeep reporting. Academic writing termasuk dalam non-fiksi atau fact yang mengandung pengertian data tak boleh palsu atau karangan, logika harus runtut, argumentasi menjadi keniscayaan, cenderung dalam kesepakatan dan pemahaman bersama.
Definisi dari menulis sendiri biasanya cenderung berbeda dari sudut pandang pelakunya, seperti pada pelajar yang mendefinisikan kegiatan menulis adalah merupakan suatu kegiatan menyalin ilmu pengetahuan yang mereka dengar atau baca dalam proses belajar mengajar. Sedangkan untuk mahasiswa sendiri kegiatan menulis adalah kegiatan menyusun laporan praktikum atau paper yang menumpuk setiap waktu dan bagi mahasiswa tingkat akhir pengertian menulis berkembang lagi menjadi kegiatan yang paling inti, yaitu menyusun skripsi atau tugas akhir. Bagi sastrawan menulis adalah kegiatan merangkai kata berisi diksi-diksi dan metafora yang indah sehingga menghasilkan sebuah karya sastra yang indah dan hikmah.
Dewasa ini minat siswa SMA cenderung menurun terhadap kegiatan menulis karya sastra, untuk itu perlu ditingkatkan agar mereka mampu untuk melestarikan menulis karya sastra tidak hanya sekadar menjadi hobi akan tetapi juga diharapkan mampu menjadi budaya yang inovatif. Siswa SMA sekarang ini lebih banyak memandang karya sastra hanya sebelah mata, jangankan menulis sebuah karya sastra, membacanya saja mereka tidak terlalu berminat. Jika bukan orang-orang yang memang sebenarnya dari awal mempunyai ketertarikan khusus terhadap karya sastra pastilah karya sastra itu dipandang tidak bernilai, padahal melalui sebuah karya sastra dapat banyak orang mampu menemukan ide-ide baru, informasi yang baru bahkan nilai-nilai yang sering dikesampingkan oleh masyarakat dapat diungkap dan dijadikan teladan atau pesan bagi individu masing-masing.
Melalui keadaan yang demikian perlu adanya suatu upaya ataupun pembaharuan agar masyarakat mampu lebih meningkatkan minatnya terhadap menulis karya sastra yang variatif tidak terkesan monoton karena bergenre tertentu saja, seperti novel atau cerpen-cerpen yang ditulis hanya monoton berjenis kisah percintaan remaja. Sebagai bangsa yang mempunyai sejarah sastrawan yang terkenal Indonesia harus mampu melestarikan menulis karya sastra sebagai budaya yang inovatif agar siswa SMA tidak lagi memandang sebelah mata terhadap sebuah karya sastra. Dalam artikel ini dibahas mengenai penyebab menurunnya minat siswa pada bidang menulis sastra, serta upaya meningkatkan minat siswa SMA pada bidang menulis sastra.

METODE PENELITIAN
Pengumpulan data dilakukan selama tiga hari di Kota Malang dan Tulungagung, khususnya di sekolah-sekolah SMA. Penelitian ini dilakukan berdasarkan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini dilakukan kegiatan mendeskripsikan hasil pengamatan dan wawancara. Karenanya, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data hari pertama yang dilakukan adalah wawancara untuk menghasilkan tentang pendapat siswa SMA mengenai penyebab menyusutnya minat siswa SMA dalam menulis karya sastra serta bagaimana cara meningkatkan minat siswa SMA untuk menulis sebuah karya sastra. Pada hari kedua dilakukan wawancara mengenai upaya melestarikan budaya menulis karya sastra di kalangan siswa SMA. Pada hari ketiga dilakukan penyebaran angket pada beberapa sekolah SMA dimana kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh data pendukung mengenai masalah yang diteliti. Sumber penelitian adalah beberapa siswa SMA dari sekolah-sekolah yang berbeda, yaitu SMA 5 Malang, MAN 1 Malang, dan beberapa SMA di Tulungagung seperti SMAN 1 Kedungwaru, SMAN 1 Gondang, dan SMAN 1 Kauman.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan data hasil penelitian maka dapat diperoleh beberapa data tentang menurunnya minat siswa SMA terhadap karya sastra, yaitu (1) akibat dari arus globalisasi, (2) siswa menulis karya sastra hanya karena iseng tanpa menjadikannya suatu hobi yang lebih produktif, (3) belum tahu benar tentang hakikat karya sastra, (4) menurunnya minat siswa terhadap karya sastra yang lebih tertarik pada hal yang konkrit daripada hal yang abstrak.
Upaya untuk meningkatkan minat siswa SMA terhadap karya sastra sebagai berikut (1) perlu adanya perhatian dari pemerintah, (2) guru tidak lagi menganaktirikan keahlian sastra terutama keterampilan menulis karya sastra, (3) sekolah lebih kreatif memanfaatkan potensi siswa dalam menulis karya sastra, (4) hasil karya sastra yang ditulis oleh siswa hendaknya ditampung dalam media yang menunjang, (5) kesadaran dari diri siswa sendiri, (6) sekolah mengadakan Festival Bulan Bahasa sebagai ajang kreativitas dalam menulis karya sastra
PEMBAHASAN
Menurunnya Minat Siswa SMA pada Bidang Menulis Sastra
Ada beberapa penyebab menurunnya minat siswa pada bidang menulis sastra, di antaranya adalah arus globalisasi. Globalisasai merupakan era di mana terjadi banyak kemajuan dalam segala bidang. Kemajuan yang cukup pesat terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.  Dengan perkembangan IPTEK yang menjangkau hampir di seluruh negara di belahan bumi,  akan banyak sekali kebudayaan dari negara lain yang masuk ke dalam budaya negara Indonesia contoh kecilnya adalah budaya menulis. Terkait dengan budaya menulis akan lebih baik mengambil segi positif dari negara asing yang sudah lebih maju untuk bidang tulis-menulis. Sebenarnya apabila ditelusuri lebih jauh tentang sastrawan atau penulis karya sastra, Indonesia adalah negara yang mempunyai banyak sastrawan, contohnya Chairil Anwar dan Taufiq Ismail. Mereka berdua adalah segelintir penulis karya sastra yang sangat terkenal di Indonesia. Karya-karya mereka juga banyak yang diakui bukan hanya di negeri sendiri tetapi juga di luar negeri.
Budaya menulis karya sastra untuk siswa SMA di Indonesia sekarang ini dirasa mulai menurun terutama akibat dari arus globalisasi yang sudah semakin gencar masuk ke dalam budaya negara ini. Dengan kecanggihan teknologi, siswa seolah sangat dimanjakan oleh kecanggihan yang ada. Bila siswa mau, mereka dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada untuk mencari referensi karya sastra pada zaman dahulu untuk menghasilkan karya sastra dengan bagus. Arus globalisasi dapat dimanfaatkan dengan baik oleh siswa yang mau memanfaatkannya dengan baik juga, tetapi kebanyakaan masyarakat Indonesia apabila diberi sarana dan prasarana yang semakin mudah semakin membuat mereka menjadi malas. Hal ini dapat dilihat pada keterampilan menulis karya sastra di sekolah, semakin menurunnya minat siswa untuk menulis karya sastra maka akan mengakibatkan budaya menulis sastra itu sendiri dapat luntur. Padahal siswa adalah calon pelajar pembawa perubahan di masa yang akan datang. Siswa adalah orang yang masih menimba ilmu di sekolah, apabila mereka tidak mempunyai keterampilan untuk menulis karya sastra, mau dibawa kemana negara yang dahulu terkenal dengan para sastrawannya. Jangan sampai arus globalisasi lebih banyak membawa dampak negatif untuk perkembangan karya sastra tetapi harus ditekan seminimal mungkin untuk dimanfaatkan dengan menghasilkan karya sastra yang lebih baik lagi terutama untuk kalangan pelajar SMA.
Di sisi lain siswa menulis karya sastra karena iseng tanpa menjadikannya suatu hobi yang lebih produktif. Sebagian dari siswa memang pernah menulis karya sastra, akan tetapi karya sastra yang mereka tulis kebanyakan hanya suatu keisengan untuk mengisi waktu luang atau ketika mereka dalam keadaan labil. Ketika itulah para siswa mulai menulis karya sastra hanya sebagai coretan buku belaka. Karya sastra yang banyak mereka pilih adalah puisi karena dianggap lebih singkat, tidak bertele-tele, dan tidak menghabiskan banyak waktu. Jarang ada siswa menulis karya sastra yang lain seperti novel, drama, atau cerpen. Untuk jenis karya-karya yang seperti itu mereka lebih senang membaca hasil karya orang lain seperti di majalah, teenliit, daripada menulisnya sendiri, terkecuali bagi siswa yang memang gemar menulis karya sastra. Siswa hanya membuat suatu karya sastra yang terkesan tidak serius dan hanya dianggap coretan tangan saja tanpa ingin mempergunakan kesempatan yang ada dengan lebih meningkatkan  kadar menulis mereka sebagai suatu hobi yang lebih produktif, karena sekarang juga tidak sedikit media yang menampung hasil karya sastra. Dengan begitu pula, para penikmat atau pembaca sastra bisa lebih tertarik untuk membaca karya sastra karena semakin banyak hasil karya sastra semakin bervariasi pula isi dan bentuk karya sastra sehingga pembaca tidak bosan dengan karya sastra yang jenisnya monoton.
Di samping itu, siswa belum tahu benar tentang hakikat karya sastra. Siswa SMA merupakan siswa yang mempunyai wawasan luas terutama yang menyangkut mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pernyataan ini tidak salah karena sejak duduk di bangku SD mereka sudah diberi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat dua keahlian yang harus dikuasai oleh siswa yaitu tentang Bahasa dan Sastra. Dua keahlian dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut haruslah seimbang dalam penerapan pengajarannya. Hal ini dimaksudkan agar tidak hanya memberatkan pada salah satu keahlian bahasa saja, tetapi pada kenyataannya terutama untuk keahlian di bidang sastra masih banyak guru Bahasa Indonesia yang menganaktirikannya. Guru Bahasa Indonesia lebih mendominasikan keahlian bidang kebahasaan saja daripada bidang sastra. Hasilnya, pada penelitian dengan menggunakan metode wawancara secara langsung terhadap tiga orang siswa SMA berbeda yang berada di daerah Tulungagung, yaitu SMAN 1 Gondang, SMAN 1 Kedungwaru, dan SMAN 1 Kauman. Ketika ditanya tentang hakikat karya sastra, satu dari siswa yang telah diwawancarai yaitu dari SMAN 1 Kedungwaru menjawabnya dengan jawaban tidak tahu pengertian karya sastra, tetapi hanya tahu bentuk karya sastra seperti novel, puisi, dan cerpen. Sedangkan siswa yang sekolah di SMAN 1 Gondang ketika diwawancarai tentang apa itu karya sastra menjawabnya dengan sangat santai bahwa karya sastra hanyalah sebuah tulisan. Padahal tulisan tidak dapat disebut sebagai karya sastra jika tidak terdapat unsur-unsur intrinsik dan unsur ekstrinsiknya serta unsur estetik yang wajib ada di dalamnya. Jadi tidak asal tulisan bisa disebut sebagai karya sastra. Ini membuktikan bahwa tingkat pengetahuan siswa terhadap karya sastra masih sangat kurang bahkan ada siswa dari sekolah SMAN 1 Kauman tidak tahu sama sekali apa itu karya sastra. Hal ini membuktikan bahwa pada kenyataanya pengetahuan bidang sastra yang ada pada pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang diterima sejak duduk di bangku SD sampai dengan SMA sangat bertolak belakang dengan lamanya siswa dalam memperoleh pendidikan. Ternyata semakin lama seorang siswa memperoleh pelajaran maka pelajaran tersebut akan semakin tidak didalami.
Wawasan siswa tentang karya sastra yang masih sedikit, bahkan untuk mendefinisikan karya sastra saja siswa masih kesulitan. Apabila pengetahuan dasar tentang karya sastra saja masih sangat sedikit apalagi untuk menuliskan sebuah karya sastra. Kebanyakan siswa masih memandang sebelah mata terhadap karya sastra dan untuk perkembangan karya sastra pun dapat terancam yang pada akhirnya akan luntur. Budaya menulis karya sastra harus selalu dipertahankan eksistensinya terutama kepada siswa SMA yang seharusnya sudah lebih paham tentang karya sastra.
Siswa lebih tertarik pada hal yang konkrit daripada hal yang abstrak juga merupakan faktor menurunnya minat siswa untuk menulis karya sastra. Sastra merupakan suatu hal yang harus dipelajari bagi siswa khususnya ketika mereka beranjak dewasa. Pada kesempatan inilah penulis mengamati minat siswa SMA terhadap karya sastra. Pada umumnya, siswa SMA yang telah diteliti memang tidak begitu tertarik dengan karya sastra ataupun mempelajarinya. Namun, di sini dengan melakukan observasi khusus terhadap kalangan siswa SMA jurusan Bahasa, telah diperoleh data bahwa sebenarnya siswa tertarik pada karya sastra karena mereka menganggapnya lebih mudah daripada pelajaran lainnya yaitu seperti mengapresiasi puisi atau juga cerpen, tetapi untuk menghasilkan karya sastra minat mereka cenderung pasif. Mereka lebih memilih hal-hal yang bersifat konkrit atau jelas daripada memilih hal-hal yang abstrak.
Dari 20 siswa, hanya 9 siswa yang berminat sedangkan 11 siswa yang lainnya tidak terlalu berminat terhadap karya sastra. Ini membuktikan bahwa minat siswa terhadap karya sastra saat ini menurun. Hal ini dikarenakan mayoritas mereka lebih memilih hal yang konkrit daripada memilih hal yang abstrak. Adapun faktor-faktor menurunnya siswa SMA yang berminat terhadap karya satra adalah sebagai berikut (1) mereka lebih suka membaca daripada menulis, (2) mereka lebih suka melihat hasil keseluruhan secara langsung daripada menikmati karya sastra, dan (3) mereka lebih suka melihat pertunjukan sastra daripada mengapresiasi karya sastra. Alasan-alasan tersebut adalah beberapa pernyataan yang memang mereka lontarkan dan sebagian besar mereka cenderung lebih memilih hal-hal yang bersifat mudah.
Meningkatkan Minat Siswa SMA pada Bidang Menulis Sastra
Pada dasarnya, siswa mempunyai minat terhadap karya sastra apabila ditunjang dengan fasilitas dan lingkungan yang mendukung. Namun, hingga sekarang apa yang diharapkan belum terlaksana dengan baik sehingga hal ini membuat mereka tidak terlalu minat terhadap karya sastra. Hal seperti ini sangat disayangkan karena sebagai generasi penerus seharusnya dapat melakukan yang terbaik untuk memajukan karya sastra di Indonesia. 
         Meningkatkan minat siswa untuk menulis karya sastra perlu adanya perhatian dari pemerintah. Dengan melihat masih banyak siswa SMA yang kurang maksimal dalam kemampuan menulis karya sastra, sepertinya akan menjadi sebuah ancaman terhadap perkembangan karya sastra untuk ke depannya. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan karya sastra sendiri juga dapat menjadi salah satu penyebabnya. Seharusnya budaya menulis karya sastra di lingkungan lembaga pendidikan lebih dikembangkan lagi sejak dini mulai dari tingkat Sekolah Dasar. Hal ini dapat dilakukan dengan membiasakan siswa untuk menulis karya sastra sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Pada saat siswa berpindah jenjang pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, siswa sudah terbiasa untuk menulis karya sastra.
Selain itu, guru tidak lagi menganaktirikan keahlian sastra terutama ketrampilan menulis karya sastra. Perhatian lain juga tertuju pada tenaga pendidik yaitu guru. Guru, terutama sebagai guru Bahasa Indonesia seharusnya tidak menganaktirikan keahlian di bidang sastra pada saat menyampaikan pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru dituntut untuk lebih kompeten tidak hanya ahli bidang kebahasaan saja tetapi juga ahli di bidang sastra. Kemampuan guru untuk bidang sastra sendiri dirasa masih sangat kurang karena pada kenyataanya saat pelajaran Bahasa Indonesia, guru bahasa seolah enggan untuk memberikan materi tentang sastra secara mendalam kepada siswa. Guru masih memberikan materi tentang sastra secara garis besar saja. Kenyataannya, meskipun sebagai guru Bahasa Indonesia, keahlian mereka di bidang sastra masih sangat kurang. Bagaimana jadinya apabila guru Bahasa Indonesia yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kurang mampu untuk menguasai keahlian di bidang sastra. Ini akan berdampak negatif kepada siswa, terutama untuk keterampilan menulis karya sastra.
Kebanyakan guru Bahasa Indonesia meskipun sudah menyampaikan teori tentang karya sastra, tetapi tidak diimbangi dengan keterampilan menulis karya sastra. Hal ini akan menjadi berbeda apabila guru menyeimbangkan antara teori dan praktek dalam menulis karya sastra pada saat pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa tidak hanya paham hakikat dari karya sastra tetapi juga memiliki keterampilan menuliskan karya sastra. Pada intinya siswa tidak hanya mengingat-ingat teori tentang karya sastra tetapi juga dapat menulis karya sastra. Tampaknya untuk menjadi seorang guru Bahasa Indonesia haruslah terampil dan lebih kreatif dalam memberikan materi yang berkaitan dengan menulis karya sastra agar siswa tidak memandang sebelah mata terhadap mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, tetapi juga untuk perkembangan sastra itu sendiri.
         Di samping itu, sekolah lebih kreatif memanfaatkan potensi siswa dalam menulis karya sastra. Tidak akan adil jika hanya menyalahkan guru dalam menurunnya minat siswa SMA dalam menulis karya sastra. Pihak sekolah pun juga ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan sastra terutama untuk meningkatkan keterampilan menulis karya sastra oleh siswanya. Apabila sekolah lebih kreatif lagi untuk memanfaat potensi siswa dalam hal menulis karya sastra maka perkembangan keterampilan menulis karya sastra siswa dapat terasah dengan baik. Hal ini dapat dilakukan oleh pihak sekolah dengan cara (1) memberikan buku pelajaran yang berkaitan tentang karya sastra, dengan buku-buku tersebut siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari karya sastra dan tak mustahil untuk menulis karya sastra, baik dalam bentuk puisi, cerpen, novel maupun karya sastra lain seperti pantun, (2) penyediaan tempat seperti mading khusus karya sastra siswa juga dapat memotivasi siswa untuk menulis karya sastra agar karya yang mereka hasilkan dapat dipajang di mading tersebut, sehingga tidak akan sia-sia siswa yang mempunyai keterampilan dalam menulis karya sastra karena hasil dari kreatifitasnya dapat terpajang dan terbaca oleh siswa lainnya, (3) sekolah lebih sering mengadakan perlombaan menulis karya sastra. Selain untuk memotivasi siswa untuk menulis karya sastra juga dapat mengatahui seberapa minat siswa kepada sastra. Pemenangnya dapat dilatih lagi dalam menulis karya sastra untuk mengikuti perlombaan di tingkat antar sekolah satu kota, satu propinsi, dan tingkat nasional, (4) sekolah mengadakan seminar atau workshop tentang menulis karya sastra. Dengan demikian siswa akan tertarik untuk mengikuti terutama bagi siswa yang memang berminat di sastra, bagi siswa yang kurang berminat menjadi berminat sekaligus dapat belajar untuk menulis karya sastra. Sebagai pengisi acara dalam seminar atau workshop, sekolah dapat mengundang seorang sastrawan lokal atau nasional untuk memberikan motivasi dan ilmunya tentang karya sastra dan mengajarkan menulis karya sastra.
Upaya melestarikan karya sastra juga dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan hasil tulisan karya sastra dan menampungnya ke dalam suatu wadah yang memang dikhususkan untuk hasil karya sastra itu sendiri. Tidak hanya satu jenis wadah seperti majalah dan penerbit buku saja, tetapi media seperti majalah baik majalah anak-anak sampai majalah orang dewasa juga menampung hasil tulisan karya-karya sastra seperti cerpen, novel dan puisi. Jika dirasa siswa kurang mampu dalam menulis sebuah cerpen atau novel, maka ia bisa menulis puisi yang tidak memakan banyak waktu, bentuknya ringkas dan padat. Karena, jika suatu hasil tulisan karya sastra hanya dibiarkan begitu saja tanpa di tampung dan di lestarikan dengan baik maka karya sastra itu sendiri akan mati dan lekang tergeser oleh era globalisasi pada zaman sekarang ini.
Selain itu, kesadaran dari diri siswa sendiri juga berperan dalam meningkatkan minat siswa. Siswa SMA merupakan remaja yang masih dalam keadaan labil. Kebanyakan pada umur-umur remaja pola pikir siswa SMA masih mementingkan kebutuhan individu daripada kelompok. Mereka masih dalam masa transisi dari masa anak-anak menuju ke masa dewasa. Begitu pun dengan pola pikir dan tingkah laku yang mereka jalani dalam kehidupan sehari-hari. Seorang siswa SMA cenderung ingin terlihat eksis dengan menunjukkan keahlian baik fisik mapun psikis yang dimilikinya. Sebagai seorang manusia pasti ada jiwa seni yang terpendam di dalam dirinya yang selalu ingin ditunjukkan kepada orang lain. Inilah yang sepatutnya disadari oleh masing-masing siswa SMA bahwa mereka juga memiliki jiwa seni. Karya sastra merupakan bagian dari seni yang bisa dikembangkan di dalam diri setiap siswa SMA. Selain faktor pendukung dari guru yang harus bisa peka terhadap perkembangan keahlian yang dimilki oleh masing-masing siswa. Dari siswanya pun juga harus sadar bahwa mereka mempunyai potensi itu. Pada kenyataannya siswa sering membuat karya sastra, hanya saja mereka tidak sadar akan hal itu. Sebagai contohnya pada saat jatuh cinta, mereka cenderung mengekspresikan jiwa seninya dengan sebuah puisi kepada sang pujaan hati melalui pesan singkat berupa SMS. Inilah salah satu potensi seni dalam diri siswa yang patut untuk dikembangkan. Tetapi siswa cenderung tidak percaya diri untuk menuangkannya ke dalam bentuk tulisan yang lebih nyata.
Apabila siswa mau untuk menuliskan karya sastra ke dalam tulisan baik itu puisi, cerpen, ataupun prosa maka potensi yang dimiliki dalam bidang sastra dapat terbaca oleh orang lain. Biarkan orang lain yang menilai apakah karya sastra itu baik atau kurang baik yang terpenting di sini dalam diri siswa sudah sadar bahwa mereka juga mempunyai jiwa seni yang patut untuk dikembangkan.
Upaya berikutnya adalah sekolah disarankan untuk mengadakan Festival Bulan Bahasa sebagai ajang kreativitas dalam menulis karya sastra. Dalam melestarikan karya sastra terlebih untuk para siswa SMA, tidak lain adalah dukungan dari lingkungan sekolah. Di mana lingkungan sekolah juga mempunyai peran penting dalam mendidik siswanya untuk terampil menghasilkan karya sastra. Hal ini sangat penting karena dengan adanya fasilitas dan media dari sekolah yaitu sebagai wadah atau tempat untuk menghasilkan karya sastra.
Media tersebut tidak lain dapat diadakan Festival Bulan Bahasa. Di mana dalam festival tersebut bertujuan untuk sebagai ajang kreativitas dalam menulis karya sastra. Dengan diadakan festival tesebut dengan sendiriya siswa akan termotivasi. Festival yang seperti itu mempunyai peran andil dalam melstarikan karya sastra karena bukan hanya menyalurkan kreativitas siswa tetapi juga memberi dampak positif bagi siwa untuk menghasilkan karya sastra dan terlebih untuk perkembangan karya sastra pada umumnya.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian mengenai kegiatan melestarikan budaya menulis karya sastra dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis di kalangan siswa sekarang ini menurun, terutama dibidang karya sastra. Hal ini disebabkan karena minat siswa terhadap kegiatan menulis semakin kurang. Berkurangnya minat siswa karena arus globalisasi, siswa menulis karya sastra karena iseng tanpa menjadikannya suatu hobi yang lebih produktif, belum tahu benar tentang hakikat karya sastra, dan siswa yang lebih tertarik pada hal yang konkrit daripada hal yang abstrak.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat siswa SMA terhadap karya sastra di antaranya perlu adanya perhatian dari pemerintah, guru tidak lagi menganaktirikan keahlian sastra terutama keterampilan menulis karya sastra,  sekolah lebih kreatif memanfaatkan potensi siswa dalam menulis karya sastra, hasil karya sastra yang ditulis oleh siswa hendaknya ditampung dalam media yang menunjang,  kesadaran dari diri siswa sendiri, dan sekolah mengadakan Festival Bulan Bahasa sebagai ajang kreativitas dalam menulis karya sastra.
DAFTAR PUSTAKA
Ahira, Anne. 2008. Hakikat menulis, (http://wajirannet.blogspot.com/2008/07/hakikat-menulis.html), diakses15 Februari 2011
Suparno. 2006. Keterampilan Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka

Bahasa Alay, kata “sangat” menjadi “beud”

            Ketika melihat status facebook teman saya, ia menulis “Ud4rA MaLm n1e d!n9in bEud”. Kalimat yang ditulis tersebut apabila diubah menjadi bahasa Indonesia yang sesuai dengan ejaan, seharusnya menjadi “Udara malam ini sangat dingin”. Dari segi penulisan, kata “sangat” sengaja diubah menjadi kata “beud”.  Hal inilah yang menjadi unik di kalangan remaja saat ini. Remaja lebih sering mengubah bahasa yang seharusnya mudah dipahami menjadi bahasa alay yang sulit untuk dimengerti sehingga diperlukan beberapa kali ketelitian untuk memahaminya.
Situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter mempunyai peran yang cukup penting dalam penyebaran bahasa alay seperti kata “beud” di lingkungan remaja. Remaja menggunakan media semacam situs jejaring sosial sebagai tempat untuk mendemokrasikan kata-kata sesuka hati dan disusun secara individual. Sebagai akibatnya, kata “beud” yang sering ditulis oleh seorang remaja di facebook atau twitter semakin memudahkan remaja yang lain untuk melihat, membaca, dan memahaminya.
Hal yang membuat resah adalah ketika bahasa alay seperti kata “beud” lebih sering diucapkan dan dituliskan daripada kata “sangat”. Bisa saja bahasa baku yang selama ini sudah ada dalam bahasa Indonesia semakin lama akan terganti oleh bahasa alay karena intensitas penggunaan bahasa alay yang terlalu sering ditulis dan diucapkan oleh remaja.
Keberadaan bahasa alay seperti kata “beud” tentu membuat orang asing yang ingin belajar Bahasa Indonesia menjadi ikut terpengaruh. Orang asing yang mulai mengenal dan mempelajari bahasa Indonesia akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan bahasa yang ia peroleh dengan bahasa yang terdapat di lingkungannya yang baru.  Mereka pasti kesulitan dalam berinteraksi dengan orang Indonesia yang menggunakan bahasa gaul (alay) seperti kata “beud”. Hal ini dikarenakan orang asing belum paham arti kata “beud” jika mereka masih tergolong pendatang baru di Indonesia. Akan tetapi, keberadaan bahasa alay semakin menambah pengetahuan orang asing bahwa di Indonesia terdapat bahasa lain selain bahasa Indonesia baku yang saat ini mulai dipopulerkan oleh remaja Indonesia. 
Apabila dilihat secara umum, remaja yang menggunakan bahasa alay seperti kata “beud” tidak bisa disalahkan begitu saja. Satu sifat bahasa arbriterlah yang digunakan oleh remaja sebagai acuan untuk menciptakan bahasa baru yang terkesan aneh, gaul dan tentunya tidak ketinggalan zaman. Kata “beud” menurut komunitas alay merupakan kata-kata yang dianggap keren dan modern, sehingga kata tersebut sering digunakan baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam bahasa sms. Apabila kata “sangat” oleh remaja dapat dikreasikan menjadi kata “beud” maka sangat sah-sah saja.
Tampaknya fasilitas yang diberikan oleh media internet melalui situs jejaring sosial harus digunakan dengan hati-hati oleh remaja. Hal ini dimaksudkan agar perkembangan bahasa Indonesia tetap terjaga dari keberagaman bahasa remaja khususnya bahasa alay. Remaja harus memperhatikan situasi yang tepat kapan menggunakan bahasa Indonesia baku dan kapan menggunakan bahasa alay. Pertanyaannya sekarang adalah jika harus memilih, pilih kata “sangat” atau “beud”?

SHORT MASSAGE SEND INDONESIA


Short Massage Send atau biasa dikenal juga dengan SMS merupakan salah satu aktivitas yang terbukti berpotensi merusak kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar bangsa Indonesia, terutama para kaum muda. Namun, penggunaan bahasa yang tidak baik dan tidak benar dalam SMS dari hari ke hari semakin meluas, dan seakan tidak dapat dicegah penyebarannya. SMS yang sedianya difungsikan sebagai media pengiriman pesan pendek yang penting, di Indonesia meluas fungsinya menjadi media percakapan tulis. Karena hal yang ingin disampaikan panjang dan lebar, sementara fasilitas digit yang tersedia terbatas, maka penulis banyak menyingkat kata-kata secara bebas. Penulis lebih mementingkan tersampaikannya informasi tanpa memikirkan aturan-aturan penulisan singkatan dan akronim dalam bahasa Indonesia.
Sebagai sarana media percakapan tulis, SMS mulai mewabah di kalangan umum terutama para kaum muda sejak terciptanya alat komunikasi berupa handphone masuk ke Indonesia. Namun dalam penulisannya masih banyak sekali kekurangan yang harus dibenahi baik dari segi bahasa tulisan maupun tingkat kesopanannya. Bahasa Indonesia dapat dijadikan patokan awal demi terciptanya bahasa SMS yang baik dan benar di Indonesia. Meskipun dalam SMS jumlah digit yang ada terbatas tetapi tidak dibenarkan apabila mengirimkan SMS yang salah terutama dalam penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri.
Para kaum muda seperti tidak memperhatikan bagaimana seharusnya berkomunikasi melalui SMS baik dan benar. Apalagi taraf kesopanan kepada siapa mereka mengirimkan SMS juga seringkali terabaikan. Bahasa yang digunakan pun terkesan seenaknya saja. Memang di Indonesia tidak ada peraturan khusus yang mengikat dalam penulisan SMS yang baik dan benar, tetapi para kaum muda setidaknya menunjukkan bahwa mereka orang Indonesia yang dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta memperhatikan kesopanan bahasa yang dipergunakan dalam media percakapan tulis. Jangan sampai bahasa Indonesia yang telah diajarkan di bangku sekolah luntur begitu saja pada saat menuliskan SMS dan diganti dengan bahasa amburadul yang sulit untuk dibaca, dipahami dan mengurangi rasa hormat bagi si penerima.
Intensitas penggunaan SMS yang terlalu sering oleh kaum muda harus disertai dengan pengetahuan yang sepadan tentang bahasa Indonesia. Jadi tidak asal kirim SMS begitu saja tanpa memperhatikan sudah pantaskah SMS yang akan dikirim. Sangat tidak baik apabila SMS yang dikirim kepada seseorang tidak memperhatikan penggunaan singkatan dan akronimnya. Bisa saja penerima pesan adalah orang yang kurang paham dengan singkatan, akronim dan bahasa yang ditulis oleh si pengirim. Sebagai akibatnya tidak hanya pesan yang tidak tersampaikan tetapi si penerima merasa tidak dihormati.
Para kaum muda yang mencerminakan diri sebagai kaum terpelajar harus menghindari seminim mungkin bahasa SMS yang salah. Mereka harus lebih sensitif lagi terhadap bahasa SMS dengan cara tidak meneruskan tradisi penggunaan bahasa Indonesia SMS yang salah. Memulai perubahan dari diri sendiri dalam menuliskan sms yang baik dan benar tentunya akan berdampak positif tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga orang lain. Hal seperti ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran terhadap kaum muda yang lain bahwa dalam menggunakan media percakapan tulis seperti SMS tidak seenaknya saja meskipun tidak ada peraturan khusus yang mengikat. Yakinlah bahwa para kaum muda dapat menjadi pelopor SMS yang baik dan benar bagi orang lain di Indonesia.

Pilih Beternak Ide atau Beternak Binatang?

Apa yang ada dalam pikiran kita ketika mendengar kata “beternak ide”? Bingung atau sama sekali tidak tahu? Tentunya tak banyak dari kita yang tahu makna dari kata-kata itu. Beternak ide merupakan kata-kata yang terdiri dari kata beternak dan kata ide. Kata beternak merupakan afiksasi dari afiks ber- ditambah bentuk dasar ternak. Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia kata beternak mempunyai arti memelihara atau mengembangbiakkan binatang, baik itu kuda, lembu, sapi, ayam, bebek dan sebagainya. Sebenarnya beternak ide ini cara pelaksanaanya hampir sama dengan beternak binatang pada umumnya, tapi hanya saja yang diternakkan bukannya binatang tetapi idea tau biasa juga disebut dengan gagasan. Bila dilihat dari pengertiannya kata ide yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah rancangan yg tersusun di dalam pikiran; gagasan; misalnya ia mempunyai ide yang bagus, tetapi sukar dilaksanakan. Pengertian ide dijabarkan secara lebih jelas dalam wikipedia indonesia, berikut kutipannya “Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ide adalah rancangan yang tersusun di pikiran.” Secara umum, orang lebih menyebutkan ide juga sebagai gagasan. Sebenarnya hal itu tidak salah karena ide dari gagasan. Kedua kata yaitu ide dan gagasan tersebut mempunyai makna yang sama atau hampir mirip. Jadi kita tidak perlu bingung bila mendengar kata ide atau pun kata gagasan karena kedua kata itu merupakan kata-kata yang bersinonim. Hanya saja seseorang lebih suka menggunakan kata ide daripada kata gagasan dalam mengungkapkan suatu pikiran. Misalnya saja dalam sebuah karangan pasti terdapat sebuah ide paragraf dari setiap paragraf. Kenapa kata ide lebih sering digunakan daripada kata gagasan? Padahal sebenarnya bisa saja disebut dengan gagasan paragraf karena ide dan gagasan saling bersinonim. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kata ide bersifat lebih formal dibandingkan dengan kata gagasan. Tetapi tidak dengan ide pokok atau gagasan pokok. Kata-kata itu bisa terterima bila menggunakan kata ide tau kata gagasan. Bila di dalam sebuah ide juga terdapat pikiran begitu pun dengan gagasan didalamnya juga terdapat pikiran. Pada intinya ide dan gagasan itu merupakan sinonim yang mempunyai arti yang sama seperti yang telah dipaparkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Beberapa orang sering mengartikan gagasan merupakan bagian dari ide. ide berawal dari susunan pikiran. Oleh karena itu ide tau gagasan terbentuk dari susunan pikiran. Sebenarnya apa hubungan idea atau gagasan dengan pikiran?
Pikiran merupakan hasil dari berpikirnya manusia yang dapat menghasilkan sebuah ide tau gagasan. Namun apa yang disebut dengan berpikir itu? Banyak orang menyatakan bahwa orang berpikir ketika ia menghadapi masalah. Sekilas pernyataan ini tidak ada yang salah. Tapi coba saya sedikit berputar. Pernakah ketika kita dalam keadaan sadar benar-benar berhenti berpikir. Tentu tidak pernah. Setiap saat kita senantiasa berpikir. Kalau setiap saat kita selalu berpikir, padahal tadi kita mendefinisikan berpikir adalah upaya untuk memecahkan masalah, dengan demikian apakah manusia senantiasa menghadapi masalah sehingga ia tidak pernah benar-benar berhenti berpikir. Lantas kalau begitu apa beda sesuatu dikatakan masalah dan tidak ? Bingung ? OK, akan saya permudah.
- Orang berfikir karena ada masalah.
- Orang tidak pernah berhenti berpikir
- Maka orang senantiasa berhadapan dengan masalah
- Kalau orang senantiasa menghadapi masalah yang terus menerus, ia tidak pernah merasakan kondisi tanpa masalah
Sebenarnya ada sedikit kerancuan bila dikalangan masyarakat ketika harus mengartikan kata ide, gagasan, pikiran belum lagi bila ditambahkan dengan kata pendapat. Ide adalah gagasan. Dalam sebuah ide atau gagasan terdapat susunan pikiran-pikiran sehingga dapat menimbulkan sebuah pendapat. Jadi sebuah pendapat bisa saja dikatakan berawal dari susunan pikiran yang dihasilkan oleh ide atau gagasan, baru kemudian dituangkan dalam bentuk pendapat. Karena sudah pasti tidak bisa dipisahkan bila seseorang berpendapat pasti berawal dari ide yang ada di dalam pikirannya. Maka masih benarkah misalnya di dalam sebuah forum diskusi terjadi perdebatan kemudian salah seorang dari peserta diskusi ada yang mengatakan “Berfikirlah dulu sebelum berpendapat”? Mungkin seseorang yang berkata begitu malah belum berfikir atau malah belum tahu sama sekali bahwa seseorang mengeluarkan pendapat pasti berawal dari susunan pikiran yang kemudian membentuk ide tau gagasan dan kemusian tertuang dalam bentuk pendapat.
Terus setelah kita menggabungkan kedua kata yaitu kata beternak dan kata ide  maka jadilah kata beternak ide. Pertanyaan pertama apa sebenarnya arti kata beternak ide? pertanyaan yang kedua mengapa kita harus beternak ide. untuk iktu jawaban dari pertanyaan yang pertama sebagai berikut. Beternak ide mempunyai maksud yaitu memelihara atau bisa juga dikatakan dengan mengembangkan gagasan dari pikiran-pikiran tentang sesuatu hal. Bila kita hubungkan dengan arti yang sesungguhnya kata beternak lebih mengarah kepada mengembangbiakkan binatang. Sedangkan kata pada beternak ide adalah kata majemuk yang menimbulkan makna baru. Nah inilah yang menjadi unik bila kata beternak ditambah dengan kata ide sehingga menjadi kata beternak ide. Sebenarnya kata beternak ide sama saja dengan kata beternak gagasan. Oleh karena itu bisa juga dipersingkat dengan beternak iga maksudnya beternak ide tau gagasan. Hehehe…
Sebagian orang berpendapat jika beternak ide merupakan beternak yang mengibaratkan ide itu seperti binatang ternak. Kalau sudah begitu tentunya ada berbagai macam proses untuk beternak ide layaknya beternak binatang. Dalam beternak ide sebenarnya hampir sama dengan beternak binatang pada umumnya. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya sehingga dapat bermanfaat untuk diri sendiri bahkan untuk orang lain. Untuk menjawab pertanyaan yang kedua kita bisa menghubungkan beternak ide denganbeternak binatang pada umumnya. Bila beternak ide setelah melalui proses yang cukup panjang akan menghasilkan suatu hasil berupa telur atau daging yang dapat dijual kemudian dapat menghasilkan keuntungan maka tak jauh berbeda dengan beternak ide. Beternak ide juga bisa mengahsilkan keuntungan seperti halnya dengan beternak binatang bahkan dapat lebih bermanfaat lagi.
Untuk mendapatkan sebuah ide yang berupa gagasan-gagasan itu tidak muncul atau datang dengan sendirinya. Perlu usaha yang keras untuk mendapatkan ide. Bila diibaratkan binatang, ide merupakan binatang yang masih sangat liar dan sulit untuk dikembangbiakkan. Misalnya saja saat beternak binatang ayam kampung. Ayam kampung tersebut tidak muncul dengan sendirinya tetapi ada proses untuk mendapatkannya. Kita sebagai seorang yang ingin memelihara bahkan mengembangbiakkannya perlu usaha untuk mendapatkan ayam kampung tersebut. Bisa saja ayam kampung itu kita peroleh dari hasil pembelian, bisa saja ayam kampung itu kita peroleh dari hasil meminta kepada orang lain dan sebagainya. Apabila kita sudah mendapatkan ayam tersebut, lalu apa yang kita lakukan setalah itu. Tentunya menempatkannya dikurungan atau bisa juga ditempatkan dikandang, setelah itu memberi makan, mengembangbiakkannya dan yang terakhir kita dapat menjual hasil dari perkembangbiakkan tersebut semisal kita jual telurnya dan dagingnya. Begitupun halnya dengan ide. Ide ibarat hewan liar yang harus ditangkap, dijinakkan, dan dikembangbiakkan layaknya binatang setelah itu kalau perlu dijual. Karena ide bersifat liar, Ide tidak datang dengan sendirinya perlu proses untuk mendapatkan ide itu. Tidak mudah sebenarnya untuk mendapatkan sebuah ide misalnya hanya dengan duduk-duduk santai dihadapan buku dan pensil sambil memegang kepala disertai dengan kepulan asap rokok yang mengepul seperti asap kereta api terus kita langsung mendapatkan ide.
Banyak cara orang untuk mendapatkan ide yang mereka inginkan tentunya dengan usaha yang tidak mudah. Ada yang mendapatkan ide setelah membaca beberapa buku bahkan berpuluh-puluh buku. Ada yang membawa terus leptopnya dengan tujuan setiap dimana pun dan kapan pun suatu saat mendapatkan ide maka langsung dicatat setelah itu dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Tak jarang juga orang yang ingin mendapatkan ide dengan bepergian jauh dengan pengorbanan otak, tenaga serta biaya demi mendapatkan ide. Dan yang lebih ribet lagi, ada orang yang sampai rela berada di kamar mandi atau WC selama berjam-jam hanya untuk mendapatkan sebuah ide.
Selain beberapa contoh tersebut masih banyak lagi cara untuk mendapatkan ide. Tetapi tak sedikit pula orang yang mendapat ide dengan singkat seperti sebuah kilat dari langit. Misalnya saja pada saat kita makan kita tanpa kita sadari kita memikirkan sebuah ide. Tetapi bila kita tidak bisa menangkapnya maka akan hilang ide itu dengan sendirinya dan berarti hilang pula kesempatan kita untuk mengembangbiakkannya. Nah ternyata mencari ide tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi ide tersebut dapat menghasilkan uang yang melimpah. Bagaimana dari hal yang bernama ide itu bisa menjadi uang. Inilah sebenarnya kemiripan ide dengan binatang ternak. Bila binatang ternak yang dikembangbiakkan dapat menghasilkan uang dari penjualan daging, susu, telur dan sebagainya. Maka ide juga begitu, dapat menghasilkan uang yang melimpah bahkan lebih banyak dari uang hasil ternak binatang. Dengan cara menjual hasil kreatif dari ide itu. Yang paling banyak dalam bentuk tulisan baik itu sastra maupun nonsastra.
Oleh karena itu, ide harus ditangkap bahkan harus diternakkan. Bagaikan hewan ternak, ide harus ditangkap, dikandangkan, dikembangbiakkan dan kemudian hasilnya dijual. Lihat saja fenomena akhir-akhir ini, dari novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El-Shirazy atau Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang menuai uang yang berjumlah milyaran rupiah dan kini mulai merambah dalam dunia layar lebar. Inilah contoh nyata betapa ide bagi seorang tak ubahnya hewan ternak yang merupakan aset tak ternilai.
Karena beternak ide dapat menghasilkan uang lebih dari beternak binatang, maka ada salahnya kita mulai mencobanya tetapi tentunya ada beberapa jurus yang harus dipenuhi setelah kita menangkap ide.
Jurus Pertama: Kandangkan
Setalah kita mendapatkan ide yang dirasa cocok maka langkah awalnya yaitu mengandangkan  ide ke dalam coretan-coretan, agenda, buku diari, kalau ada bisa langsung diketik di dalam laptop, komputer, USB, disket, mesin ketik, atau apapun fasilitas penyimpan data yang kita miliki. Meskipun masih berupa sebuah kata atau sebuah kalimat yang melintas sekilas di benak saat menunggu sesuatu mungkin misalnya saat menunggu pacar, menunggu kereta api, menunggu bus dan sebagainya. Dengan begitu jangan sampai kita membiarkan ide yang hanya sekilas seperti kilat itu pergi begitu saja karena ide tersebut merupakan cikal bakal atau bisa disebut anak atau embrio yang terlalu mahal untuk disia-siakan begitu saja. Karena siapa yang akan mengira jika coretan ide Andrea Hirata akan menjelma menjadi bayi raksasa bernama Laskar Pelangi yang menghipnotis seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia?
Jadi jangan biarkan ide hanya berkelebat mampir di benak. Kurung ia karena ia lebih liar dan lebih mudah pergi bahkan lebih rentan dicuri daripada uang. Jika perlu, perlakukan ide sama berharganya dengan uang yang kita tabungkan ke bank. Milikilah tabungan ide dalam bentuk apapun sehingga isinya selalu dapat kita setor dan tarik setiap saat bila kita sedang membutuhkannya.
Jurus Kedua: Beri Makan
Tak berbeda dengan beternak binatang, beternak ide pun perlu diberi makan. Bila nasi goreng, lalapan ayam, dan nasi pecel adalah makanan untuk badan. Kitab suci serta buku-buku lainnya adalah makanan untuk jiwa dan otak yang tentunya inilah asupan terbaik untuk hewan ternak bernama ide. Semakin bermacam-macam variasi serta gizi jenis asupan ide maka semakin gemuk dan berbobot ide tersebut.
Jurus Ketiga: Kembangbiakkan
Setelah dirasa ide-ide itu berbobot dan gemuk maka jurus yang perlu dilakukan selanjutanya yaitu mengawinkan ide. caranya yaitu dengan kawin silang. Bila ternak sapi Madura petarung karapan yang tangguh adalah hasil percampuran benih sapi pilihan. Ide unggulan juga begitu, dia mewarisi kualitas berisikan masukan yang membentuknya. Maka dalam beternak ide juga harus begitu. dengan memadukan berbagai macam unsur yang berbeda terhadap sebuah ide. tidak hanya satu buah referensi asupan untuk ide tetapi lebih banyak variasinya maka lebih baik lagi perkembangbiakan ide tersebut.
Jurus Keempat: Menjual
Setelah dirasa sudah waktunya untuk menjual. Maka jualah ide dalam bentuk tulisan. Jika tidak mampu menuliskannya, ide tersebut dapat dijual ke seorang teman yang mampu untuk menuliskannya. Soal hitung-hitungan finansial itu bisa jadi kesepakatan. Dalam dunia sinetron sudah lazim seorang penulis menjual ide dan soal eksekusi atau penggarapan diserahkan kepada tim penulis skenario. Itu hanya sekedar contoh. Namun kita tentu layak dan sangat berhak menerima kehormatan untuk menuliskannya sendiri. Tentu jika kita berani memanen atau mendapatkan hasilnya setelah susah-payah menangkap ide, mengandangkan, memberi makan, mengembangbiakkan, dan menjualnya.
Nah, nikmatilah hasil beternak ide. Pertanyaan selanjutnya adalah, sudahkah kita punya nyali untuk beternak ide?

Jumat, 05 April 2013

Budaya Jawa yang dipegang oleh Tokoh Lasi dalam novel “Belantik” (Bekisar Merah II) karya Ahmad Tohari

Novel Belantik merupakan lanjutan dari novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kata (Bekisar Merah II) yang berada dalam judul Belantik. Dalam novel Belantik ini pasti ada tokoh dan penokohan yang ada didalamnya. Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki karakter masing-masing, yang penceritaannya dapat diketahui dari tuturan langsung sang tokoh tentang dirinya sendiri, maupun tuturan kesaksian oleh tokoh dalam bab tentang tokoh-tokoh lain dalam bab yang lain. Tokoh merupakan seorang pelaku atau aktor yang terdapat dalam suatu cerita. Selain tokoh yang berupa wujud manusia, ada juga tokoh yang berwujud binatang. Penokohan adalah bagaimana pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Ini berarti ada dua hal penting, yang pertama berhubungan dengan teknik penyampaian sedangkan yang kedua berhubungan dengan watak atau kepribadian tokoh yang ditampilkan. Sehubungan dengan hal itu maka penggambaran tokoh dan watak sang tokoh harus wajar dan masuk akal. Maksudnya bahwa tutur kata, tingkah laku dan perbuatan menggambarkan watak sang tokoh harus biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dari novel Belantik yang saya baca terdapat beberapa tokoh yang ada didalamnya. Para tokoh yang telah dikemukakan dalan novel Belantik ini diantaranya adalah Lasi, Handarbeni, Bambung, Bu Lanting, Oning, Pak Min, Mak Min, Mbok Wiryaji, Kang Entang, Kanjat, Eyang Mus, Mukri, Pardi, Mayor Brangas, Mbok Tir, Drs. Cablaka, Martacarub, SH., Ir. Sutarmin MSc., Blakasunta SH., Paman Ngalwi, perempuan-perempuan Bu Koneng seperti Si Betis dan Si Anting Besar. Dari semua tokoh tersebut memerankan karakteristik sendiri-sendiri. Kecuali nama-nama tokoh yang telah saya sebutkan tadi, di novel Belantik ini ada juga tokoh dari binatang seperti tikus busuk, celuruh, ketonggeng, si ekor kipas dan labah-labah.
Sebagai tokoh utama dalam novel Belantik ini, Lasi digambarkan sebagai wanita Jawa yang masih memiliki darah campuran Jawa-Jepang. Lasi adalah wanita lugu dari desa yang tidak pandai, tetapi memegang teguh kesantunan sebagai wanita Jawa. Lasi juga digambarkan sebagai wanita Jawa yang setia kepada suaminya. Apapun yang terjadi selama menjadi istri seseorang, pantang baginya untuk selingkuh ataupun dimiliki oleh orang lain, meskipun suaminya sendiri yang menawarkan dan mengizinkannya. Hal itu tampak pada kutipan berikut.
“Begini. Kalau tidak salah, saya mendengar Anda pernah memberi kebebasan yang sedemikian longgar kepada Lasi. Bekisar itu Anda izinkan mencari lelaki lain asal dia mau tutup mulut dan tetap resmi menjadi istri Anda. Begitu, kan? Kok sekarang Anda kebakaran jenggot ketika Lasi mau dipinjam Bambung?” (Belantik : 10)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Lasi diperbolehkan oleh suaminya untuk mencari lelaki lain tetapi atas pengawasan suaminya. Meskipun sudah mendapatkan kebebasan untuk mencari yang lain pada kenyataannya Lasi tidak pernah melakukannya. Lasi juga tidak mau bepergian dengan orang lain tanpa seizin suaminya. Segala perilakunya benar-benar menunjukkan kesetiaan wanita Jawa. Ketika Lasi akan diajak Bu Lanting ke Singapura, Lasi tidak langsung mengiyakan, tatapi harus meminta persetujuan dan izin terlebih dahulu dari suaminya. Seperti pada kutipan berikut ini :
Lasi terpana sejenak. Ada kebimbangan dan kegembiraan di wajahnya yang tetap khas. Bibirnya bergerak-gerak namun tak terdengar apa-apa.
“Jangan bingung, Las. Aku hanya akan membawamu pergi bila Pak Han mengizinkan kamu. Jadi, coba hubungi dia sekarang.” (Belantik : 26)

Sebagai wanita Jawa dirinya merasakan atau mampu memahami apa yang disampaikan oleh suaminya. Nada bicara yang didengarkan dari suaminya dapat ditangkap oleh Lasi sebagai pertanda yang menyenangkan atau bahkan sebaliknya. Ketika Lasi menghubungi suaminya untuk mendapatkan izin pergi dengan Bu Lanting, Lasi merasakan nada keberatan dari suaminya.
“Tetapi Mas Han seperti terpaksa mengizinkan saya. Suaranya berat”.
“Mungkin suamimu sedang banyak urusan. Biasa, Las, bila sedang sibuk seorang suami akan kehilangan kehangatan. Jadi yang penting bersiaplah. Ini baru jam sepuluh. Jam setengah satu nanti saya kembali kemari.” (Belantik : 26)

Kutipan di atas menggambarkan perasaan Lasi sebagai wanita Jawa benar-benar halus. Tuturan yang disampaikan oleh Handarbeni mampu ditangkap selayaknya wanita Jawa pada umumnya yang selalu berpegang pada etika berbakti kepada suami. Ketidakrelaan Handarbeni dipahami oleh Lasi hanya melalui tuturan. Kemampuan Lasi untuk memahami tuturan suaminya menunjukkan bahwa Lasi benar-benar sebagai istri yang setia.
Keluguan  sikap Lasi tercermin pada tuturannya. Dia tidak bisa bertutur panjang lebar atau sekedar berbasa-basi seperti cara bertutur Bu Lanting. Tetapi sebaliknya, sebagai wanita yang lugu Lasi lebih banyak mengiyakan. Hal ini disebabkan oleh perasaan halus dan kepolosannya sebagai wanita Jawa yang berasal dari desa, sehingga keaslian wataknya tetap ada meskipun hidup di Jakarta sebagai orang yang kaya dan bergelimang harta. Meskipun Lasi di Jakarta tatapi sama dengan Lasi yang di Karangsoga.
“Las, aku bilang juga apa! Pak Bambung itu hebat. Di Jakarta, boleh jadi tak ada lelaki yang bisa menandingi kehebatannya. Dan Sekarang dia mencurahkan perhatiannya kepadamu. Buktinya, kalung ini tidak diberikan kepadaku, melainkan kepadamu.”
“kepada saya?”
“ya.”
“...anu... Tapi Pak Bambung tetap pacar ibu, kan”
“Iya dong. Sampai saat ini dia masih pacarku. Tetapi entahlah. Sudah kubilang sejak pertama kali melihatmu Pak Bambung sudah mencuri-curi pandang.”
“Jadi ibu menyesal mengajak saya kemari?”
“Oalah, Las, aku bukan lagi perawan kencur. Aku perempuan tua yang amat cukup pengalaman. Dan adat lelaki. Jadi nanti, bila ternyata Pak Bambung suka sama kamu, ya sudah. Aku tak perlu merasa rugi. Betul! Toh aku sudah dapat uangnya. Pulang dari sini lihatlah, aku akan beli Mercy model terbaru. Dengan mobil itu si Kacamata pasti ku bawa ke mana-mana.
Apa lagi?” (Belantik : 38-39)

Tuturan Lasi hanya menggunakan kalimat yang pendek dan langsung pada maksudnya, tanpa panjang lebar dan basa-basi. Berbeda dengan tuturan Bu Lanting yang cenderung tidak langsung dan lebih banyak berbasa-basi. Hampir semua tuturan Lasi di novel ini menggunakan kalimat yang pendek-pendek, apa adanya dan merupakan jawaban atau pernyataan seperlunya saja. Dengan bahasa yang sederhana, kalimat yang pendek sangat mencerminkan jiwa Lasi sebagai wanita Jawa yang polos, sederhana dan setia kepada adat istiadat Jawa.
Analisis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengarang memandang tokoh Lasi sebagai figur wanita Jawa yang lugu, sederhana, tidak begitu pandai, tetapi tetap memegang teguh kesantunan sebagai wanita Jawa. Selain itu, pengarang juga menggambarkan Lasi wanita dari desa yang memiliki perasaan halus dan polos sebagai wanita Jawa. Sedangkan tuturan yang terungkap pada tokoh Lasi ini adalah selalu menggunakan bahasa yang sederhana, kalimat-kalimat yang pendek dan tidak berbasa-basi atau selalu apa adanya. Dari semua tutur kata, tingkah laku dan perbuatan yang tampak pada tokoh Lasi menggambarkan bahwa ia sangat memegang teguh budaya Jawanya.

Keterampilan Menyimak


RAGAM MENYIMAK

1.      Menyimak ekstensif
Adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran. Menyimak ekstensif mempunyai dua tujuan yaitu :
a.       Untuk menangkap atau mengingat kembali bahan yang telah dikenal/diketahui..
b.      Memberi kesempatan dan kebebasan bagi pendengar/penyimak butir-butir kosakata dan struktur yang masih asing/baru yang masih dalam jangkauan dan kapasitasnya untuk menanganinya.
Menyimak ekstensif terbagi atas :
1.1.   Menyimak sosial
Menyimak sosial (social listening) atau menyimak konversasional (conversational listening) atau juga menyimak sopan (courteous listening), adalah mendengarkan satu sama lain untuk membuat responsi-responsi wajar, dan memperhatikan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan, dikatakan oleh seorang rekan (Dawson [et .al] 1963 : 153). Menyimak sosial mencakup dua hal yaitu :
a.            Menyimak secara sopan santun, dengan penuh perhatian terhadap percakapan atau obrolan dalam situasi-situasi sosial dengan suatu maksud.
b.            Menyimak serta memahami peranan-peranan pembicara dan penyimak dalam proses komunikasi tersebut (Anderson; 1972 : 69).
1.2.   Menyimak sekunder
Menyimak sekunder (secondary listening) adalah kegiatan menyimak secara kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif (extensive listening).
1.3.   Menyimak estetik
Menyimak estetik (aesthetic listening) ataupun yang disebut menyimak (appreciantional listening) adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif.


1.4.   Menyimak pasif
Menyimak pasif (passive listening) adalah penyerepan suatu ujaran tanpa sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita saat belajar dengan kurang teliti, tergesa-gesa, menghafal luar kepala, serta menguasai suatu bahasa.

2.      Menyimak intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak yang diarahkan pada suatu kegiatan yang lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Dalam hal ini haruslah diadakan suatu pembagian penting sebagai berikut :
a.       Menyimak intensif ini terutama sekali dapat diarahkan pada butir-butir bahwa sebagian dari program pengajaran bahasa, atau
b.      Terutama sekali dapat diarahkan pada pemahaman serta pengertian umum.
Menyimak ekstensif terbagi atas :
2.1.   Menyimak kritis
Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang merupakan untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara, dengan alasan-alasan yang kuat dapat diterima oleh akal sehat. Empat konsep penting dalam menyimak kritis adalah :
    1. Pembicara berbicara secara deduktif.
    2. Pembicara mendukung masalah yang dikemukakan.
    3. Pembicara mengemukakan masalah baru.
    4. Pembicara mendemonstrasikan keyakinannya.
2.2.   Menyimak konsentratif
Menyimak konsentratif (concentrative listening) sering juga disebut a study-type listening atau menyimak yang merupakan sejenis telaah. Kegiatan ini mencakup :
a.       Mengikuti petunjuk dalam pembicaraan.
b.      Mencari dan merasakan hubungan-hubungan, seperti kelas, tempat, kualitas, waktu, urutan serta sebab-akibat.
c.       Mendapatkan atau memperoleh informasi tertentu.
d.      Memperoleh pemahaman dan pengertian yang mendalam.
e.       Merasakan serta menghayati ide-ide sang pembicara.
f.       Memahami urutan ide-ide sang pembicara.
g.      Mencari dan mencatat fakta-fakta penting (Anderson, 1972 : 70; Dawson [et .al], 1963 : 153).
2.3.   Menyimak kreatif
Menyimak kreatif (creative listening) adalah kegiatan dalam menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan atau dirangsang oleh apa-apa yang disimaknya (Dawson [et .al]. 1963 : 153). Kegiatan menyimak kreatif mencakup :
a.       Memecahkan masalah, memeriksa, dan mengujinya.
b.      Mengadaptasikan imaji dengan pikiran imajinatif dalam karya.
c.       Mengasosiasikan makna dengan pengalaman menyimak.
d.      Merekonstruksi imaji visual sementara menyimak.
2.4.   Menyimak eksplorasi
Adalah menyimak yang bersifat menyelidiki atau exploratory listening, disebut juga kegiatan menyimak intensif dengan maksud tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah dan lebih sempit. Menyimak eksplorasi harus menyiagakan :
a.       Menemukan hal baru.
b.      Menemukan isu menarik.
c.       Menemukan informasi tambahan.
2.5.   Menyimak interogatif
Menyimak interogatif (interrogative listening) adalah  kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara. Kegiatan menyimak interogatif mencakup pertanyaan :
a.       Benarkah ?
b.      Apa ?
c.       Siapa ?
d.      Mengapa ?
e.       Di mana?
f.       Ke mana ?
g.      Bilamana ?
h.      Untuk apa ?

2.6.   Menyimak selektif
Menyimak selektif adalah tambahan-tambahan (saling melengkapi) masalah psikologis yang dijelmakan oleh aktivisme bagi kita, menyimak selektif harus memperhatikan urutan berikut :
a.       Nada suara.
b.      Bunyi-bunyi asing.
c.       Bunyi-bunyi yang bersamaan.
d.      Kata-kata atau frase-frase.
e.       Bentuk-bentuk ketatabahasaan



Ilmu Bahasa - Linguistik


Pengertian bahasa
Pada zaman Yunani para filsuf meneliti apa yang dimaksud dengan bahasa dan apa hakikat bahasa. Para filsuf tersebut sependapat bahwa bahasa adalah sistem tanda. Dikatakan bahwa manusia hidup dalam tanda-tanda yang mencakup segala segi kehidupan manusia, misalnya bangunan, kedokteran, kesehatan, geografi, dan sebagainya. Tetapi mengenai hakikat bahasa – apakah bahasa mirip realitas atau tidak – mereka belum sepakat. Dua filsuf besar yang pemikirannya terus berpengaruh sampai saat ini adalah Plato dan Aristoteles.
Ruang Lingkup Ilmu Bahasa
Secara umum, bidang ilmu bahasa dapat fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Beberapa bidang tersebut dijelaskan dalam sub-bab berikut ini.
Fonetik
Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang nyata antara bunyi tin dan thin, dan antara they dan day,.
Abjad fonetik internasional, yang didukung oleh laboratorium fonetik, departemen linguistik, UCLA, penting dipelajari oleh semua pemimpin, khususnya pemimpin negara. Dengan kemampuan membaca abjad fonetik secara tepat, seseorang dapat memberikan pidato dalam ratusan bahasa.
Fonologi
Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut.
Morfologi
Morfologi lebih banyak mengacu pada analisis unsur-unsur pembentuk kata. Sebagai perbandingan sederhana, seorang ahli farmasi (atau kimia?) perlu memahami zat apa yang dapat bercampur dengan suatu zat tertentu untuk menghasilkan obat flu yang efektif; sama halnya seorang ahli linguistik bahasa Inggris perlu memahami imbuhan apa yang dapat direkatkan dengan suatu kata tertentu untuk menghasilkan kata yang benar. Misalnya akhiran -¬en dapat direkatkan dengan kata sifat dark untuk membentuk kata kerja darken, namun akhiran -¬en tidak dapat direkatkan dengan kata sifat green untuk membentuk kata kerja. Alasannya tentu hanya dapat dijelaskan oleh ahli bahasa, sedangkan pengguna bahasa boleh saja langsung menggunakan kata tersebut.
Sintaksis
Analisis sintaksis mengacu pada analisis frasa dan kalimat. Salah satu kemaknawiannya adalah perannya dalam perumusan peraturan perundang-undangan. Beberapa teori analisis sintaksis dapat menunjukkan apakah suatu kalimat atau frasa dalam suatu peraturan perundang-undangan bersifat ambigu (bermakna ganda) atau tidak. Jika bermakna ganda, tentunya perlu ada penyesuaian tertentu sehingga peraturan perundang-undangan tersebut tidak disalahartikan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Semantik
Kajian semantik membahas mengenai makna bahasa. Analisis makna dalam hal ini mulai dari suku kata sampai kalimat. Analisis semantik mampu menunjukkan bahwa dalam bahasa Inggris, setiap kata yang memiliki suku kata ‘pl’ memiliki arti sesuatu yang datar sehingga tidak cocok untuk nama produk/benda yang cekung. Ahli semantik juga dapat membuktikan suku kata apa yang cenderung memiliki makna yang negatif, sehingga suku kata tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai nama produk asuransi.
Sejarah Perkembangan Ilmu Bahasa
Ilmu bahasa terus berkembang dan semakin memainkan peran penting dalam dunia ilmu pengetahuan.
Tradisi tata bahasa Yunani-Latin berpengaruh ke bahasa-bahasa Eropa lainnya. Tata bahasa Dionysius Thrax pada abad 5 diterjemahkan ke dalam bahasa Armenia, kemudian ke dalam bahasa Siria. Selanjutnya para ahli tata bahasa Arab menyerap tata bahasa Siria.
Minat meneliti bahasa-bahasa di Eropa sebenarnya sudah dimulai sebelum zaman Renaisans, antara lain dengan ditulisnya tata bahasa Irlandia (abad 7 M), tata bahasa Eslandia (abad 12), dan sebagainya. Pada masa itu bahasa menjadi sarana dalam kesusastraan, dan bila menjadi objek penelitian di universitas tetap dalam kerangka tradisional. Tata bahasa dianggap sebagai seni berbicara dan menulis dengan benar. Tugas utama tata bahasa adalah memberi petunjuk tentang pemakaian "bahasa yang baik" , yaitu bahasa kaum terpelajar. Petunjuk pemakaian "bahasa yang baik" ini adalah untuk menghindarkan terjadinya pemakaian unsur-unsur yang dapat "merusak" bahasa seperti kata serapan, ragam percakapan, dan sebagainya.
Selain di Eropa dan Asia Barat, penelitian bahasa di Asia Selatan yang perlu diketahui adalah di India dengan ahli gramatikanya yang bemama Panini (abad 4 SM). Tata bahasa Sanskrit yang disusun ahli ini memiliki kelebihan di bidang fonetik. Keunggulan ini antara lain karena adanya keharusan untuk melafalkan dengan benar dan tepat doa dan nyanyian dalam kitab suci Weda.
Sampai menjelang zaman Renaisans, bahasa yang diteliti adalah bahasa Yunani, dan Latin. Bahasa Latin mempunyai peran penting pada masa itu karena digunakan sebagai sarana dalam dunia pendidikan, administrasi dan diplomasi internasional di Eropa Barat. Pada zaman Renaisans penelitian bahasa mulai berkembang ke bahasa-bahasa Roman (bahasa Prancis, Spanyol, dan Italia) yang dianggap berindukkan bahasa Latin, juga kepada bahasa-bahasa yang nonRoman seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Swedia, dan Denmark.
Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.
Beberapa rumpun bahasa yang berhasil direkonstruksikan sampai dewasa ini antara lain:
1). Rumpun Indo-Eropa: bahasa Jerman, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavis, Roman, Keltik, Gaulis.
2). Rumpun Semito-Hamit: bahasa Arab, Ibrani, Etiopia.
3). Rumpun Chari-Nil; bahasa Bantu, Khoisan.
4). Rumpun Dravida: bahasa Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam.
5). Rumpun Austronesia atau Melayu-Polinesia: bahasa Melayu, Melanesia, Polinesia.
6). Rumpun Austro-Asiatik: bahasa Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam.
7). Rumpun Finno-Ugris: bahasa Ungar (Magyar), Samoyid.
8). Rumpun Altai: bahasa Turki, Mongol, Manchu, Jepang, Korea.
9). Rumpun Paleo-Asiatis: bahasa-bahasa di Siberia.
10). Rumpun Sino-Tibet: bahasa Cina, Thai, Tibeto-Burma.
11). Rumpun Kaukasus: bahasa Kaukasus Utara, Kaukasus Selatan.
12). Bahasa-bahasa Indian: bahasa Eskimo, Maya Sioux, Hokan
13). Bahasa-bahasa lain seperti bahasa di Papua, Australia dan Kadai.
Keberhasilan kaum Junggramatiker merekonstruksi bahasa-bahasa proto di Eropa mempengaruhi pemikiran para ahli linguistik abad 20, antara lain Ferdinand de Saussure. Sarjana ini tidak hanya dikenal sebagai bapak linguistik modern, melainkan juga seorang tokoh gerakan strukturalisme. Dalam strukturalisme bahasa dianggap sebagai sistem yang berkaitan (system of relation). Elemen-elemennya seperti kata, bunyi saling berkaitan dan bergantung dalam membentuk sistem tersebut.
Beberapa pokok pemikiran Saussure:
1). Bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis. Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran.
2). Linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional. Para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.
3). Penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19. Walaupun bahasa berkembang dan berubah, penelitian dilakukan pada kurun waktu tertentu.
4). Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah.
5). Bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian.
6). Bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur.
7). Dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole).
8). Dibedakan antara hubungan asosiatif dan sintagmatis dalam bahasa. Hubungan asosiatif atau paradigmatis ialah hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna. Hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagma dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.